Every Livin' Things have their Own World

selamat bergabung.............

Kamis, 30 September 2010

Pro Dan Kontra Keorganisasian di Indonesia

Indonesia merupakan negara yang menganut kedemokrasian yang dimana rakyat memiliki kekuasaan penuh dalam menentukan jalannya pemerintahan. Di jaman reformasi sekarang ini banyak bermunculan partai- partai baru dan organisasi –organisasi baru. Kebanyakan perkumpulan atau perserikatan –perserikatan di Indonesia memiliki tujuan yang sama, yaitu ingin mensejahterakan bangsa Indonesia. Namun tiap organisasi memiliki cara yang berbeda beda dalam melaksanakan program kerjannya masing- masing. Sekarang Indonesia sudah merasa bebas untuk berekspressi dibandingkan dengan saat jaman reformasi dahulu yang segala sesuatunnya masih sangat di awasi oleh pemerintah.

Sekarang kepemerintahan sudah membebaskan rakyat untuk membentuk sebuah organisasi kemasyarakatan atau instansi yang berhubungan dengan kepentingan masyarakatnnya. Banyak masyarakat yang pro dan juga kontra atas beberapa instansi atau organisasi tertentu. Sekarang saya akan membahas mengenai beberapa organisasi yang menuai pro dan kontra masyarakat. Contohnnya saja FPI (front pembela islam), FPI merupakan sebuah organisasi yang bergerak di bidang keagamaan khususnnya agam islam. Saya setuju dengan dibentuknnya organisasi ini karena dengan adannya FPI masyarakat muslim di Indonesia menjadi lebih kuat rasa persaudaraannya karena kita saling membantu satu sama lain. Nah yang terkadang menjadi kontra dikalangan masyarakat di televisi-televisi adalah terkadang mereka selalu betindak cenderung keras dan merusak sarana – sarana umum jika sedang melakukan sebuah inspeksi. Menurut saya semuannya mungkin dapat dibicarakan dulu dengan kepala dingin untuk menyelesaikan permasalahnnya.
Selain itu juga masih banyak organisasi – organisasi lainnya yang terkadang bisa menuai pro dan kontra dikalangan masyarakat.

Minggu, 26 September 2010

Organisasi - Organisasi Pertama di Indonesia

Berbicara soal Organisasi, Idonesia juga memiliki banyak organisasi kepemudaan pada awal reformasi. Munculnnya organisasi - organisasi kepemudaan pada zaman reformasi didesak oleh keadaan negara Indonesia yang ingin cepat merdeka. Berikut beberapa Organisasi kepemudaan pada zaman reformasi.

Berikut data - data yang saya dapatkan dari sumber lainnya.

1. Boedi Oetomo

Budi Utomo berdiri pada tahun 1908 yang pada awal mula berdirinya merupakan organisasi pelajar yang ruang lingkupnya masih kedaerahan, namun pada perkembangannya berubah menjadi organisasi perkumpulan pemuda nasional.

Budi Utomo lahir dari inspirasi yang dikemukakan oleh Wahidin Soediro Husodo disaat beliau sedang berkeliling ke setiap sekolah untuk menyebarkan beasiswa, salah satunya STOVIA. Sejak saat itu, mahasiswa STOVIA mulai terbuka pikirannya dan mereka mulai mengadakan pertemuan-pertemuan dan diskusi yang sering dilakukan di perpustakaan STOVIA oleh beberapa mahasiswa, antara lain Soetomo, Goenawan Mangoenkoesoemo, Goembrek, Saleh, dan Soeleman. Mereka memikirkan nasib bangsa yang sangat buruk dan selalu dianggap bodoh dan tidak bermartabat oleh bangsa lain (Belanda), serta bagaimana cara memperbaiki keadaan yang amat buruk dan tidak adil itu. Para pejabat pangreh praja (sekarang pamong praja) kebanyakan hanya memikirkan kepentingan sendiri dan jabatan. Dalam praktik mereka pun tampak menindas rakyat dan bangsa sendiri, misalnya dengan menarik pajak sebanyak-banyaknya untuk menyenangkan hati atasan dan para penguasa Belanda.

Para pemuda mahasiswa itu juga menyadari bahwa mereka membutuhkan sebuah organisasi untuk mewadahi mereka, seperti halnya golongan-golongan lain yang mendirikan perkumpulan hanya untuk golongan mereka seperti Tionh Hwa Hwee Kwan untuk orang Tionghoa dan Indische Bond untuk orang Indo-Belanda. Pemerintah Hindia Belanda jelas juga tidak bisa diharapkan mau menolong dan memperbaiki nasib rakyat kecil kaum Pribumi, bahkan sebaliknya, merekalah yang selama ini menyengsarakan kaum pribumi dengan mengeluarkan peraturan-peraturan yang sangat merugikan rakyat kecil.

Para pemuda itu akhirnya berkesimpulan bahwa merekalah yang harus mengambil prakarsa menolong rakyatnya sendiri. Pada waktu itulah muncul gagasan Soetomo untuk mendirikan sebuah perkumpulan yang akan mempersatukan semua orang Jawa, Sunda, dan Madura yang diharapkan bisa dan bersedia memikirkan serta memperbaiki nasib bangsanya. Perkumpulan ini tidak bersifat eksklusif tetapi terbuka untuk siapa saja tanpa melihat kedudukan, kekayaan, atau pendidikannya.

Pada awalnya, para pemuda itu berjuang untuk penduduk yang tinggal di Pulau Jawa dan Madura, yang untuk mudahnya disebut saja suku bangsa Jawa. Mereka mengakui bahwa mereka belum mengetahui nasib, aspirasi, dan keinginan suku-suku bangsa lain di luar Pulau Jawa, terutama Sumatera, Sulawesi, dan Maluku. Apa yang diketahui adalah bahwa Belanda menguasai suatu wilayah yang disebut Hindia (Timur) Belanda (Nederlandsch Oost-Indie), tetapi sejarah penjajahan dan nasib suku-suku bangsa yang ada di wilayah itu bermacam-macam, begitu pula kebudayaannya. Dengan demikian, sekali lagi pada awalnya Budi Utomo memang memusatkan perhatiannya pada penduduk yang mendiami Pulau Jawa dan Madura saja karena, menurut anggapan para pemuda itu, penduduk Pulau Jawa dan Madura terikat oleh kebudayaan yang sama.

2. Tri Koro Dharmo

Trikoro Dharmo adalah sebuah perkumpulan pemuda yang berasal dari Jawa pada tahun 1915 di gedung kebangkitan nasional. Organisasi ini kemudian mengubah nama menjadi Jong Jawa pada kongres di Solo. Arti definisi / pengertian dari tri koro dharmo adalah Tiga Tujuan Mulia. Para pelajar Jawa waktu itu diwajibkan mengenakan jarik (kain) dan udheng (ikat kepala). Di atas udheng itu dikena-kan topi berlambang kedokteran. Suatu pemandangan yang menggelikan, karenanya calon-calon dokter yang biasanya berasal dari kalangan priyayi itu dicemoohkan orang sebagai "kondektur trem". Satiman berjuang agar para pelajar dapat mengenakan "pakaian bebas". Dalam praktek itu berarti hak untuk berpakaian sebagai orang Barat. Sesudah lama dipertim-bangkan, akhirnya direktur STOVIA memutuskan untuk meluluskan permohonan itu, terutama karena ternyata pakaian Barat agak lebih murah daripada pakaian Jawa. Dengan sendirinya waktu itulah kaum elit yang baru muncul dan berpendidikan baik itu di masa studi dan sesudahnya mulai membedakan diri secara lahiriah dari orang-orang setanah airnya dengan menggunakan gaya pakaian si penjajah. Para pelajar STOVIA itu adalah orang-orang yang sadar akan kelas dan statusnya, dan antara sesamanya mereka berbicara Belanda. Ini tidak berarti bahwa rnereka mencampakkan budaya Jawa. Satiman justru ingin menghidupkan kembali budaya itu. Tang-gal 7 Maret 1915 bersama dengan Kadarman dan Soenardi ia mendirikan Tri Koro Dharmo (Tiga Tujuan Mulia) yang men­jadi pendahulu Jong Java. Yang menjadi anggota pertamanya adalah lima puluh pelajar STOVIA, Kweekschool (Sekolah Guru) Gunung Sari (Weltevreden), dan Koningin Wilhelmina School (KWS).

3. Jong Sumatra Bond (Persatuan Pemuda Sumatra)

Organisasi oni berdiri pada tahun 1917 yang memiliki tujuan untuk mempererat hubungan antar pelajar yang berasal dari sumatera. Beberapa toko terkenal dari organisasi ini yaitu seperti M. Hatta dsan M. Yamin. Kelahiran JSB pada mulanya banyak diragukan orang. Salah satu diantaranya ialah redaktur surat kabar Tjaja Sumatra, Said Ali, yang mengatakan bahwa Sumatra belum matang bagi sebuah politik dan umum. Tanpa menghiraukan suara-suara miring itu, anak-anak Sumatra tetap mendirikan perkumpulan sendiri. Kaum tua di Minangkabau menentang pergerakan yang dimotori oleh kaum muda ini. Mereka menganggap gerakan modern JSB sebagai ancaman bagi adat Minang. Aktivis JSB, Bahder Djohan menyorot perbedaan persepsi antara dua generasi ini pada edisi perdana Jong Sumatra.

4. Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia

Organisasi yang satu ini berdiri pada tahun 1925 yang diprakarsa oleh mahasiswa Jakarta dan Bandung dengan tujuan untuk Kemerdekaan Indonesia.

5. Jong Indonesia

Perkumpulan pemuda dan pemudi ini didirikan pada tahun 1927 di Bandung di mana kemudian organisasi ini diubah menjadi Pemuda Indonesia untuk yang berjenis kelamin laki-laki dan Putri Indonesia bagi yang perempuan. Pemuda Indonesia membuat kongres di mana pada kongres yang kedua menghasilkan Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928.

6. Indonesia Muda

Indonesia Muda adalah organisasi nasional yang lahir karena dorongan Sumpah Pemuda pada tahun 1930 sebagai peleburan banyak organisasi pemuda daerah / lokal.

7. Organisasi Perkumpulan Daerah

Setelah muncul jong jawa dan jong sumatra bond, maka bermunculanlah organisasi lokal kedaerahan lain seperti jong celebes, jong ambon, jong minahasa, dan lain sebagainya.


Nahhh banyak bukan organisasi-organisasi di Indonesia. Jika kita dapat memahami dari beberapa organisasi yang ada, saya yakin suatu saat kita pun pasti dapat menciptakan organisasi kepemudaan di era yang baru ini demi terbentuknnya kesejahteraan di Indonesia.

Sabtu, 25 September 2010

TUGAS 1

BUDAYA BERORGANISASI

Manusia merupakan makhluk sosial yang dapat hidup saling berdampingan satu sama lainnya. Kehidupan bermasyarakat sangatlah berpengaruh dalam pengembangan diri mengenai kehidupan berorganisasi. Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki banyak kebudayaan satu sama lainnya. Kehidupan berorganisasi sudah seharusnnya dapat kita terapkan dalam kehidupan sehari - hari. Biasannya orang yang memiliki jiwa berorganisasi dapat mudah diterima dimana saja. Definisi organisasi,kurang lebih ya kaya gini, terdapat beberapa teori dan perspektif mengenai organisasi, ada yang cocok sama satu sama lain, dan ada pula yang berbeda.Organisasi pada dasarnya digunakan sebagai tempat atau wadah dimana orang-orang berkumpul, bekerjasama secara rasional dan sistematis, terencana, terorganisasi, terpimpin dan terkendali, dalam memanfaatkan sumber daya , sarana-parasarana, data, dan lain sebagainya yang digunakan secara efisien dan efektif untuk mencapai tujuan organisasi.

Jika kita berbicara mengenai organisasi dan Indonesia. Bagaikan meminum teh hangat ditemani dengan kudapannnya. Organisasi sudah merupakan bagian dari jati diri bangsa karena indonesia merupakan negara hukum yang berlandaskan pada asas demokrasi. Berbicara soal demokrasi pasti tidak jauh dari organisasi. Awal mula terciptannya demokrasi bermula dari cara hidup masyarakat indonesia yang terbiasa hidup berorganisasi. Contohnnya saja ditiap wilayah, pasti terdapat sebuah organisasi kecil seperti karang taruna, DKM, RT,RW, hingga ke tingkat yang lebih tinggi. Organisasi mahasiswa dapat kita gunakan sebagai langkah awal menuju kehidupan berorganisasi. Dalam berorganisasi kita di ajarkan untuk dapat berkumpul, berpendapat, dan beradaptasi. Biasannya ketika kita sudah terjun di dunia kerja dasar mengenai kehidupan berorganisasi sering dipertanyakan. Mengapa ? karena di dalam dunia kerja kita dituntut untuk dapat membaur dan bekerja secara team work.

Terkadang dalam suatu organisasi pasti terdapat sebuah permasalahan. Permasalahn dalam organisasi dapat timbul karena adannya perbedaan pendapat yang tidak menemukan titik pangkal. Nahhhhhh disinilah yang biasannya menjadi kendala mengapa setiap orang malas untuk berorganisasi. Mereka cenderung menutup dirinya sendiri karena tidak mau terlibat masalah yang terlalu kompleks dalam sebuah organisasi. Negara - negara maju memiliki metode - metode tersendiri dalam berorganisasi. Ada yg lebih cenderung bergerak dibidang ekonomi, sosial,maupun politik, bahkan militer pun ada. Organisasi internasional adalah suatu bentuk dari gabungan beberapa negara atau bentuk unit fungsi yang memiliki tujuan bersama mencapai persetujuan yang juga merupakan isi dari perjanjian atau charter. Contohnnya saja PBB.PBB merupakan salah satu bentuk keorganisasian dalam cakupan besar. Dibawah PBB terdapat organisasi yang setingkat lebih kecil dari PBB, yaitu ASEAN (Association Of South East Asia Nation). Selain itu Indonesia juga memiliki banyak instansi -instansi yang didalamnnya terdapat kehidupan keorganisasian. Maka dari itu Organisasi bisa di sebut juga sebagai sebuah kebudayaan, karena Organisasi dapat kita temui dimana saja dan sudah menjadi landasan bagi terbentuknnya sebuah kemasyarakatan.